RSS

Overproduction and Overstock in Pharmaceutical Industry

23 Mar

Inventori atau persediaan barang sangat berpengaruh kepada cash flow perusahaan, karena inventory adalah uang yang tidak bergerak. Semakin banyak inventory maka beban cash flow akan semakin berat. Seorang pakar cash flow management Rosemary Peavler mengatakan bahwa 60% perusahaan yang gagal adalah akibat cash flow yang kurang baiknya cash flow bukan karena ketidak mampuannya untuk mencetak profit.

Invetory dalam perusahaan farmasi dapat berupa bahan baku, bahan kemas, produk antara dan produk jadi itu sendiri.  Persediaan memang harus selalu ada, adalah hal yang tidak mungkin dalam industri farmasi menganut seratus persen just in time. Banyak bahan baku yang berasal dari luar negeri yang harus melalui prosedur import dengan lead time mencapai 1 sampai 3 bulan bahkan bisa lebih, jadi persediaan tetap diperlukan dalam hal seperti ini. Namun tentu harus dicari formula yang tepat dimana besarnya persediaan masih dapat menjamin kontinuitas supply di satu sisi namun tidak terlalu membebani cash flow di sisi yang lain.

Penyebab terjadinya overproduction dan invetory berlebih antara lain :

  1. Kinerja karyawan atau departemen diukur berdasarkan banyaknya produk yang dihasilkan tanpa melihat kebutuhan pelanggan
  2. Buruknya forecasting, yang mengakibatkan produk yang diproduksi tidak sesuai dengan kebutuhan riil pasar
  3. Jadwal produksi yang tidak seimbang atau berganti ganti sehingga menyulitkan dalam menjaga konsistensi level persediaan
  4. Karena banyak yang cacat akibat proses yang tidak memadai maka jumlah produksi ditingkatkan
  5. Permintaan pasar terlalu kecil, meskipun batch size sudah dibuat sekecil mungkin masih bisa terjadi overstock. Misalnya untuk produk produk slow moving

Cara menghilangkan pemborosan ini adalah sebagai beriktu :

  1. One Piece Flow. Adalah menciptakan proses yang mengalir secara seimbang sehingga tidak ada penumpukan di setiap tahapan proses. Aliran ini harus ditarik oleh kebutuhan pelanggan. Hal ini spintas kelihatannya mudah, namun dalam implementasinya cukup sulit. Lay out pabrik dan peralatan harus dirancang dengan baik agar semua aktifitas produksi dapat mengalir dengan baik.
  2. SMED (Single minute exchange dies) atau juga dikenal quick changeover. Adalah dengan mendesain suatu proses yang meminimalkan waktu set up mesin. Misalnya ketiga produk A sudah hampir selesai maka sudah mulai dilakukan perisapan untuk produk B, sehingga pada saa produk A selesai bahan untuk produk B sudah disiapkan. Namun perlu dilakukan dengan hati hati jangan sampai malah menimbulkan mixed up atau kontaminasi silang.
  3. Kartu kanban. Adalah alat lain yang efektif untuk menurunkan banyaknya barang dan meterial di dalam proses. kartu kanban memberikan serangkaian sinyal untuk seluruh proses agar bergerak secara sinkron.

Terima kasih.

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2012 in PRODUKTIFITAS

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: