RSS

Renovasi Fasilitas Produksi Obat dari Aspek Pengembangan Bisnis

03 May

Keikutsertaan Indonesia sebagai anggota dari PIC/S (The Pharmaceutical Inspection Convention and Pharmaceutical  Inspection Co-operation Scheme) membawa dampak yang sangat signifikan dalam perkembangan Industri farmasi  di Indonesia. Di satu sisi ini adalah perkembangan yang sangat positif dalam hal penyediaan obat yang berkualitas bagi masyarakat, karena dengan implementasi  PIC/S standar ini maka kualitas obat yang diproduksi oleh pabrik obat di Indonesia sudah setara dengan negara Negara Eropa.

Namun tentunya hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis di bidang farmasi, karena dengan persyaratan teknis mengacu kepada PIC/S standar maka harus dilakukan perbaikan perbaikan pada system manufacturing di Industri Farmasi,  dan ini tentu memerlukan tambahan investasi yang cukup besar. Tanpa disadari pelaku bisnis industry farmasi dipaksa mengikuti proses “seleksi alam”, dimana perusahaan yang mempunyai kekuatan bisnis besar akan tetap eksis sedang perusahaan yang kekuatan bisnisnya lemah akan secara alamiah tersingkirkan.

Untuk itu tentu diperlukan strategi dalam setiap mengambil keputusan yang menyangkut renovasi fasilitas produksi obat, berikut adalah beberapa pertimbangan startegis dari aspek pengembangan bisnis dalam melakukan investasi, khususnya renovasi, ekspansi  atau pembangunan fasilitas produksi obat yang baru.

Pastikan bahwa investasi yang dilakukan sejalan dengan arah kebijakan perusahaan

Dalam setiap perusahaan tentu sudah ada visi perusahaan yang berisi road map, serta arah kebijakan dimasa yang akan datang. Semua target target yang ingin dicapai,  strategi bisnis yang akan dilakukan, perencanaan investasi serta kebijakan perusahaan dalam beberapa tahun kedepan sudah ditetapkan, dan ini akan menjadi petunjuk bagi manegemen dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Beberapa hal yang biasanya menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan road map ini antara lain : goal perusahaan jangka pendek, menengah dan panjang, kondisi ekonomi makro, trend pasar dimasa mendatang, arah kebijakan pemerintah termasuk kondisi politik, serta proyeksi kondisi social ekonomi masyarakat dalam beberapa tahun kedepan. Dengan demikian perusahaan sudah menetapakan focus dalam menjalankan bisnisnya untuk beberapa tahun kedepan, sector bisnis apa saja yang akan dikembangkan, startegi marketing apa yang akan dijalankan, di segemen pasar mana yang akan diprioritaskan dsb.

Sebelum melakukan investasi berupa pembangunan fasilitas produksi obat baru, kegiatan ekspansi, atau renovasi, dimana memerlukan biaya investasi yang tidak kecil, terlebih dahulu harus dipastikan bahwa hal ini sudah sejalan dengan arah visi perusahaan yang tertuang didalam road map. Karena jika tidak sejalan dengan visi perusahaan maka investasi besar yang telah dilakukan akan menjadi sia sia, karena kurang fokus, sehingga hasilnya tidak akan maksimal.

ROI (Return of Investment)

Dalam setiap akan melakukan sebuah investasi harus terlebih dahulu dilakukan evaluasi terhadap tingkat efisiensinya, untuk mengukur dan menentukan apakah sebuah investasi layak dilakukan. Serta untuk membuat perhitungan berapa lama biaya investasi tersebut akan kembali untuk itu perlu dibuat perhitungan return of investment.

Perusahaan farmasi tidak berbeda dengan bisnis yang lain dalam perhitungan ROI, sesuai dengan kebijakan managemen harus menetapkan berapa lama investasi itu harus kembali, jangka waktunya tentu sangat beragam di masing masing perusahaan. Ada yang menghendaki ROI harus dicapai dalam 1 tahun, ada yang 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 5 tahun. Untuk investasi berupa riset molekul baru umumnya ROI masih bisa diterima dalam jangka waktu  5 sampai 10 tahun.

Untuk itu diperlukan kejelian dalam menetapkan apakah sebuah investasi pembanguanan atau renovasi pabrik obat perlu dilakukan atau tidak perlu dilakukan, bahkan road map yang ada pun jangan bersifat kaku/mati, harus selalu diupdate sesuai dengan kondisi pasar, kondisi social ekonomi masyarakat, kondisi social politik terutama kebijakan pemerintah, misalnya pemberlakukan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) serta kondisi ekonomi makro.

 

Bisnis yang Erat dengan peraturan/regulasi

Perlu dipahami bahwa bisnis obat adalah bisnis yang penuh dengan aturan aturan pemerintah, mulai dari pengadaan bahan bakunya, penyimpanan, proses manufakturingnya, penyimpanan serta distribusi dan pemasaran semua banyak diatur oleh pemerintah. Mulai dari regulasi import bahan baku, regulasi produksi bahan baku, regulasi tentang narkotika dan psikotropik, regulasi pengajuan ijin edar, regulasi bidang pengembangan produk baru, regulasi sitem produksi dan pengendalian mutunya, regulasi penyimpanan bahan baku dan obat jadi, regulasi penyaluran obat jadi dan sederat aturan lain yang harus diikuti oleh pelaku bisnis bidang obat.

Sehingga seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pengadaan bahan, manufacturing hingga penyaluran obat jadi harus dipastikan memenuhi semua persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah. Di sisi lain juga harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, perlunya efisiensi dalam segala sector serta kegiatan inovasi yang harus selalu dijalankan untuk mencapai keunggulan pasar. Sehingga perlu dilakukan integrasi antara berbagai kepentingan ini dalam sebuah kebijakan perusahaan, dengan demikian maka keunggulan bisnis dapat dicapai.

Dalam bidang pemasaran, saat ini pemerintah juga memberlakukan system E-catalogue, dimana hanya produk produk yang mempunyai harga kompetitif yang bisa masuk kebutuhan obat dari pemerintah. Selain itu pemberlakuakn System Jaminan Sosial Nasional tahun 2014 juga sangat mempengaruhi kebijakan perusahaan khususnya dalam menentukan startegi pasar yang akan diambil.

Diperlukan kejelian dari seorang pebisnis untuk berselancar di tengah-tengah derasnya ombak persaingan yang ketat, serta mengikuti peraturan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah sambil secara kreatif mencari celah yang dapat dimanfaatkan secara legal serta “mengintip” arah kebijakan yang kira kira akan diambil oleh pemerintah, sehingga ketika ada peraturan baru akan ditetapkan tidak terkaget kaget bahkan bisa mencuri start untuk mengambil langkah antisipasi.

Jangan ragu ragu jika tidak mampu tutup

Jelas sekali bahwa persyaratan teknis GMP tidak mungkin bisa ditawar, maka jika memang secara perhitungan ROI dari sebuah investasi tidak layak untuk dilakukan, maka mau tidak mau investasi tersebut harus dibatalkan. Perushaan perusahaan dengan varian produk yang sangat banyak, biasanya untuk dapat memenuhi persyaratan teknis GMP terbaru  perlu lebih banyak improvement dibandingkan perusahaan lain dengan varian produk sedikit. Artinya biaya untuk renovasi fasilitas dan system manufatkurnya juga juga lebih banyak.

Kondisi ini tentu sangat memberatkan, untuk itu pebisnis harus focus kepada produk mana yang memang prospektif untuk dipasarkan, sedangkan produk yang tidak prospektif fasilitas produksi ditutup, cara produksinya bisa dilakukan dengan cara menjalin kerja sama dengan perusahaan lain untuk melakukan  contract manufacturing. Tentunya kondisi ini tidak selamanya, apabila ternyata respon pasar terhadap produk tersebut sangat baik dan dirasa cenderung meningkat terus sehingga visible untuk dilakukan investasi pembangunan pabrik baru, barulah dibangun pabrik baru.

Solucinum

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2013 in FARMASI, Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: