RSS

Category Archives: FARMASI

TIPS MEMBELI OBAT YANG ASLI

Kejadian temuan vaksin palsu oleh Bareskrim POLRI,  yang tersebar luas dibeberapa daerah  akhir akhir ini sangat meresahkan masyarakat, ini merupakan tindakan kriminal yang sangat merugikan masyarakat. Vaksin palsu ini tentu sangat berbahaya bagi kesehatan, karena diproduksi di fasilitas yang tidak memenuhi persyaratan sehingga tidak ada jaminan sterilitas dari produk vaskin palsu tersebut, bisa menimbulkan infeksi bagi penggunanya. Keaslian produk obat adalah sangat penting agar terjamin keamanan, kualitas serta khasiatnya.

Keaslian suatu produk obat sangat penting dalam rangka memperoleh produk obat yang aman (safety), bermutu (quality) dan manjur (efficacy). Karena obat yang  aman, bermutu, dan manjur hanya dapat diperoleh dari produsen yang telah menerapkan dengan ketat prisip prinsip CPOB dalam proses pembuatannya, disimpan, didistribusaikan dengan baik oleh distributor yang menerapkan dengan ketat prinsip-prinsip CDOB.

Untuk mendapatkan obat yang terjamin keasliannya dapat dilakukan langkah langkan sebagai perikut :

Langkah Pertama

Belilah produk obat yang sudah terdaftar di BPOM, jangan memberli obat obatan dari sumber yang belum terdaftar di BPOM. Karena semua obat yang beredaran dipasaran sudah melalui serangkain pemeriksaan yang ketat oleh BPOM sebelum diberikan ijin edarnya. Pemeriksaan ini mulai dari sumber bahan bakunya, proses pengembangan formula, fasilitas produksi, proses produksi dan stabilitas produk serta hal hal lain untuk memastikan bahwa produk tersebut aman dan terjamin mutunya sampai ke pengguna. Hanya obat obatan yang lolos pemeriksaan yang dapat diberikan ijin edarnya. Saat ini perlu diwaspadai banyak sekali sumber sumber yang menjual obat yang belum terdaftar, termasuk penjualan obat secara on line dari luar negeri.

Saat ini BPOM sudah punya website yang menyediakan layanan untuk mengecek produk, tinggal buka website, masukan nama produk maka jika memang terdaftar akan keluar nomor ijin edarnya.

Langkah kedua

Belilah obat dari sumber yang resmi/terpercaya, jangan mudah tergiur oleh sumber seumber yang menawarkan obat dengan harga murah, karena disinilah biasanya sumber obat palsu dijual.

Bagi konsumen dianjurkan untuk membeli produk obat di apotek apotek resmi atau toko obat berijin untuk obat bebas.

Bagi pengelola apotek atau klinik membeli obat dari distributor resmi yang ditunjuk oleh pabrik pembuat obat. Pemalsu obat mempunyai kemampuan untuk membuat produk obat palsu yang tampilannya sangat mirip dengan obat asli, sehingga sangat sulit untuk membedakannya. Untuk itulah perlunya memilih distributor resmi yang ditunjuk pabrik pembuatan sebagai sumber penyedia obat.

 

Langkah ketiga

Perhatikan dengan seksama produk obat yang anda beli. Jika keanehan pada kemasan atau isi produk obat.  Misalnya ada bekas bekas hapusan pada tanggal kadaluarsa, bias dipastikan obat palsu. Atau jika dilihat isi warnanya berbeda dari yang biasanya harus ditanyakan apakah ini perubahan dari pabrik atau produk palsu. Jika diketemukan produk obat yang sudah berubah warna, ada endapan padahal seharusnya bening, tablet yang sudah ada bintik bintik warna padahal seharusnya polos ini semua menjukan obat yang sudah kadaluarsa, jangan digunakan.

 

Langkah keempat

Simpanlah obat pada kondisi yang dipersyaratkan seperti tercantum pada kemasan. Beberapa obat sangat sensitive terhadap suhu sehingga harus disimpan pada kondisi pada suhu 2 – 8o C, ada yang harus dismpan pada suhu 8 – 15o C, ada yang bias dismpan pada suhu 15-25o C, ada yang tahan sampai suhu 30 0C atau lebih. Penyimpanan diluar kondisi dipersyaratkan menyebabkan obat tidak stabil, akibatnya kualitasnya akan menurun. Selama dalam penyimpanan di pabrik atau distributor, selama dalam transportasi, selama penyimpanan di apotek bahkan penyimpanan di pengguna harus dijaga agar kondisinya sesuai.

 

Langkah kelima

Konsumen harus berpartisipasi untuk mencegah pemalsuan obat. Caranya adalah obat obat yang sudah tidak digunakan atau kadaluarsa harus dirusak sebelum dibuang agar tidak dimanfaatkan oleh oknum oknum yang tidak bertanggung jawab. Jangan diberikan kalau ada orang yang bersedia membeli obat kadaluarsa dengan alasan untuk ternak, karena ini adalah oknum sindikat pembuat obat palsu. Obat untuk ternak dan manusia jelas berbeda baik dosis maupun persyaratannya.

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2016 in FARMASI

 

Kesalahan Kesalahan dalam Melakukan Investigasi

Presentation1Beberapa kesalahan dalam melakukan investigasi adalah :

  1. Terlalu cepat mengambil kesimpulan, kesimpulan hanya diambil dari “sepotong kepingan puzzle” yang bahkan kadang kadang belum diverifikasi kebenarannya. Orang kadang tidak menyadari akan hal ini, bahkan sering dianggap hebat karena bisa melakukan investigasi secara cepat. Namun kesimpulan yang salah arah ini mengakibatkan tindakan perbaikan dan pencegahan yang kurang efektif, karena akar permasalahan yang sebenarnya belum tersentuh.
  2. Tidak melakukan verifikasi terhadap kebenaran kepingan puzzle. Oleh karena itu setiap informasi yang kita terima kemudian diuji kebenarannya. Hanya informasi yang lulus uji inilah yang kita jadikan dasar untuk mengambil kesimpulan. Namun perlu diingatkan pembatasan ini jangan sampai menghalangi proses penggalian informasi. Pada tahap penggalian informasi maka catatlah semua informasi yang masuk tanpa terkecuali, galilah dari semua sumber yang terkait baik langsung maupun tidak langsung. Baru setelah melewati tahap ini dilakukan brain stroming dengan team ahli untuk menguji kebenaran informasi.
  3. Tidak dilakukan identifikasi masalah secara jelas sehingga investigasi tidak jelas tujuannya. Akibatnya menghasilkan kesimpulan yang tidak jelas pula. Akhirnya CAPA-nya menjadi kurang efektif, dan problem yang sama terulang kembali.
  4. Tidak ada pembatasan ruang lingkup investigasi. Sesudah melakukan identifikasi masalah dan menetapkan tujuan investigasi maka ruang lingkup investigasi harus ditetapkan supaya jelas batasannya. Hal ini untuk memudahkan dalam pelaksanaan invesigasi, lebih focus ke target investigasi, lebih sistematis serta menetapkan batas tanggung jawab dari team investigasi. Bila perlu kita juga harus menyebutkan hal hal yang mungkin sebenarnya terkait namun karena kondisi tertentu tidak memungkinkan dimasukan kedalam cakupan investigasi.
  5. Penggalian akar permasalahan kurang dalam. Kadang kala sebuah investigasi yang dilakukan arahnya sudah benar dan namun belum menyentuh ke akar permasalahan. Hal ini antara lain bisa disebabkan karena kurangnya informasi atau teknik pencarian informasi yang kurang efektif. Sekali lagi harus disadari bahwa dalam mengawali sebuah investigasi hendaklah investigator jangan membawa prasangka dikepalanya, bersifat netral dan terbuka. Biarkanlah semua informasi masuk sebanyak banyaknya, carilah dari semua sumber yang mungkin bias diakses, namun jangan mudah terpancing oleh informan informan yang akan berusaha mempengaruhi opini.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2016 in AVIATION, BISNIS, FARMASI, MANAGEMEN

 

CARA MELAKUKAN INVESTIGASI

Investigasi adalah tindakan yang perlu dilakukan, biasanya dilakukan sebagai tindak lanjut dari suatu penyimpangan atau kegagalan  system, peralatan maupun proses. Tindakan investigasi berguna untuk menemukan akar permasalahan yang menjadi sebab terjadinya kegagalan atau penyimpangan untuk kemudian membuat rencana tindakan perbaikan dari kegagalan/penyimpangan tersebut serta rencana tindakan pencegahan yang memungkinkan kegagalan yang sama tidak terulang kembali dimasa yang akan datang.

Walaupun kurang populer, sebenarnya kegiatan investigasi juga bisa ditujukan untuk suatu system atau proses yang sudah dianggap baik, yang akan dijadikan sebuah model yang akan diimplementasikan kepada system atau proses lain. Jadi lebih bersifat untuk tujuan improvement.

Harus dipahami bahwa investigasi adalah kegiatan untuk mengungkap sebuah fakta atau suatu kejadian berdasarkan informasi atau bukti bukti nyata yang diketemukan. Ibarat sebuah permainan puzzle, kepingan puzzle sudah tercerai berai dan tujuan dari investigasi adalah menemukan sekaligus menyusun kepingan kepingan puzzle tersebut sehingga membentuk sebuah kata. Ini tidak mudah, karena kegiatan investigasi perlu keahlian khusus, perlu mempelajari metode metodenya, menguji kebenaran dari beberapa “kepingan puzzle” yang diketemukan untuk kemudian menyusun kepingan kepingan tersebut sehingga dapat mengarah kepada kesimpulan yang benar.

Beberapa tahapan dalam melaksanakan investigasi adalah sbb :

  1. Mendapatkan latar belakang atau kronolgis dari timbulnya penyimpangan atau kegagalan. Hal ini penting karena dari informasi yang lengkap tentang kronolgis inilah dapat dilakukan identifikasi masalah yang benar. Carilah dari informasi yang benar tentang kronolgis terjadinya kegagalan atau penyimpangan, dari sumber sumber yang terpercaya misalnya : pelaksana, orang menyaksikan langsung dilokasi, orang yang terkena dampak langsung, orang yang menerima produk cacat dsb.
  2. Melakukan identifikasi masalah. Identifikasi masalah perlu dilakukan guna untuk menentukan tujuan investigasi, supaya investigasi yang dilakukan berjalan menuju kearah yang benar. Investigasi yang salah arah hanya akan membuang sumber daya, hasilnya tidak bermanfaat sama sekali
  3. Menentukan Tujuan Investigasi. Tujuan investigasi harus dapat mengarahkan investigasi kearah pencarian fakta tersembunyi tentang sebab sebab dari sebuah penyimpangan yang sudah teridentifikasi dengan jelas untuk kemudian mencari tindakan yang tepat guna mengurangi kerugian yang mungkin timbul, serta mencegah terulangnya kembali kejadian tersebut.
  4. Menetapkan ruang lingkup investigasi. Pembatasan ini bertujuan agar kegiatan investigasi lebih fokus pada tujuan, berjalan lebih sytematis, lebih efektif. Juga ada kejelasan bagian mana yang menjadi tanggung jawan team investigator dan bagian mana yang diluar tanggung jawab. Sehingga tidak ada keraguan sedikitpun dalam mempertanggung jawabkan setiap hasil investigasi.
  5. Melakukan analisa akar masalah. Analisa akar masalah perlu dilakukan untuk menemukan akar permasalahan apa yang menyebabkan terjadinya kegagalan. Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk melakukan penggalian ini, misalnya dengan Why Why analysis atau dengan diagran Isikawa.
  6. Melakukan kajian resiko. Kajian Resiko perlu dilakukan untuk menghitung besarnya dampak yang mungkin timbul dari sebuah penyimpangan atau kegagalan, serta besarnya peluang terjadinya. Hal ini sangat perlu untuk menetapkan jenis tindakan apa yang harus dilakukan, tindakan mana yang perlu didahulukan, serta resiko apa yang dapat diabaikan. Salah satu metode yang biasa digunakan adalah metode FMEA (failure mode effect analysis), namun selain metode ini tentu masih banyak juga metode yang lain yang dapat digunakan.
  7. Penatapan tindakan perbaikan dan pencegahan. Inilah sebenarnya buah dari sebuah investigasi, tindakan perbaikan dan pencegahan. Investigasi tanpa rekomendasi tindakan perbaikan dan pencegahan hanyalah sia sia tidak ada gunanya. Investigasi yang baik akan menghasilkan tindakan perbaikan dan pencegahan yang efektif untuk mengurangi dampak serta mencegah terulangnya kembali problem yang sama.

FLOW CHART INVESTIGASI

 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2016 in BISNIS, FARMASI, MANAGEMEN

 

How to Build Quality Into the Product

quality-assuranceAda sebagian orang yang berfikir pendek beranggapan bahwa kualitas hanyalah tambahan biaya, sehingga dianggap sebagai suatu pemborosan. Sikap ini tentu akan melahirkan sikap mengabaikan kualitas, yang paling dirugikan tentu masyarakat yang menjadi pengguna produk, disamping itu prusahaan farmasi yang memproduksi obat kualitas rendah dapat terkena sanksi dari regulator serta hilangnya kepercayaan dari masyarakat.
Apabila kita fikirkan secara mendalam sebenarnya antara produktifitas dan kualitas bukanlah hal yang perlu dipertentangkan, keduanya adalah satu kesatuan yang menopang kelangsungan bisnis sebuah produk. Kualitas adalah symbol dari tingkat kepuasan terhadap suatu produk, produk dengan kualitas tinggi dengan sendirinya akan menghasilkan tingkat kepuasan yang tinggi. Dan sebaliknya produk yang kualitasnya rendah biasanya akan menghasilkan kekecewaan pelanggaan, biasanya ditandai dengan banyaknya complain pelanggan.

Khusus untuk produk obat, maka kualitas juga dikaitkan dengan pemenuhan terhadap persyaratan yang ditetapkan oleh regulator. Produk yang kualitasnya baik dengan sendirinya akan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh regulator, sementara produk yang kualitasnya rendah tidak dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh regulator sehingga harus ditarik atau bahkan kemungkinan pabrik ditutup, hal ini tentu dapat merusak reputasi perusahaan.
Berbicara tentang kualitas sebuah produk, maka ini bukanlah hal yang sederhana. Untuk membangun kualitas kedalam suatu produk usaha yang keras dengan cakupan yang luas mulai dari produk tersebut dirancang dan dikembangkan, pada saat ditranfer menjad bet komersial, selama berlangsungnya aktifitas produksi, selama dalam penyimpanan sampai proses distribusinya. Pertimbangan kualitas juga perlu diperrhatikan terhadap desain bangunan, mesin alat dan fasilitas serta kegiatan rutin dalam pengoperasian dan pemeliharaan. Personel yang terlibat dalam kegiatan manufaktur farmasi juga harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga sejalan dengan aspek aspek mutu.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun mutu kedalam produk antara lain sebagai berikut :

 
A. Strategi Bisnis
Sudah dimaklumi bahwa bisnis industry farmasi adalah bidang bisnis yang sangat erat diatur dengan peraturan peraturan pemerintah, fully regulated. Peraturan peraturan ini terus berkembang kearah menyesuaikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian setiap Industry harus selalu melakukan upaya perbaikan dan peningkatan terus menerus agar tetap dapat memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan oleh pemerintah serta sejalan dengan tuntutan kebutuhan pelanggan yang semakin cerdas.
Sebagai konsekuensinya maka membangun industry farmasi memerlukan investasi cukup yang besar, sehingga harus dilakukan dengan perhitungan yang cermat. Keputusan untuk membangun industry farmasi atau mengembangkan sebuah produk baru harus dianalisa dengan cermat mengingat ketatnya peraturan yang harus dipenuhi dan prosesnya yang tergolong cukup lama, sehingga jika sampai salah perhitungan perusahaan bisa “kehabisan nafas” ditengah jalan.

Analisa kebutuhan pasar yang cermat, tingkat daya beli masyarakat, perkembangan regulasi pemerintah adalah hal kunci untuk memutuskan sebuah produk farmasi layak jual atau tidak.

Fokus indutri farmasi terhadap bidang yang akan digarapnya juga sangat penting, karena akan menghasilkan efisiensi baik pada tenaga pemasaran maupun pada system manufaturingnya. Variasi produk yang banyak menuntut jumlah tenaga pemasaran yang lebih banyak, fasilitas manufacturing yang lebih banyak pula. Dengan demikian biaya investasi yang harus dikeluarkan menjadi lebih banyak pula.
Untuk itu maka pihak top managemen harus menetapkan strategi bisnis yang jelas, misalnya visi misi perusahaan, goal perusahaan jangka pendek dan jangka panjang, focus bidang yang akan diambil sehingga tidak terjadi “impulsive investment”, dan pembuatan road map yang akan menjadi panduan arah perusahaan minimal untuk 5 tahun kedepan.
Mungkin ada yang bertanya apa kaitannya kualitas dengan strategi bisnis. Jawabannya sangat jelas, tanpa uang maka kualitas hanyalah omong kosong, withaout money quality is nonsense.

 

B. Komitmen Managemen
Komitmen managemen terhadap mutu sangatlah penting, karena tanpa komitmen managemen maka semua system managemen mutu tidak dapat dijalankan. Penerapan system managemen mutu memerlukan perhatian yang serius, perlu personel khusus, dan untuk implementasinya perlu didukung oleh semua pihak yang trekait karena hal ini memerlukan dukungan resources antara lain tenaga, waktu dan biaya. Komitmen managemen harus tertuang didalam visi misi perusahaan dan juga kebijakan mutu.
Komitmen menagemen selain harus tertuang dalam visi, misi dan kebijakan mutu juga harus tercermin dalam setiap pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan aspek kualitas. Dalam penetapan goal perusahaan jangka pendek dan jangka panjang serta pembuatan road map untuk menuju goal jangkan panjang, serta dalam penyusunan budget harus selalu memasukkan aspek kualitas.
Kualitas produk yang baik biasanya akan menjadi bagian penting dalam kesuksesan bisnis, namun sayangnya keberhasilan dalam menjaga mutu  kadang kadang jarang dilihat sebagai suatu prestasi sehingga dianggap biasa. Namun sekali saja terjadi kegagalan pada system mutu produk dapat berdampak merugikan terhadap kelangsungan bisnis, bahkan jika menyangkut yang kritikal bisa menjadi “ malapetaka” yang mengancam kelangsungan bisnis. Kesadaran akan pentingnya managemen mutu perlu dimiliki dan didukung oleh semua unsur mulai dari top managemen sampai pelaksana teknis di lapangan.
C. Penerapan Managemen Mutu
System managemen mutu adalah hal mendasar yang harus diterapkan dalam rangka menjamin dihasilkannya produk yang bermutu. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan industry farmasi adalah menghasilkan produk yang aman, bermutu dan berkhasiat. Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”, yang memerlukan partisipasi dan komitmen jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor.

Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem Pemastian Mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menginkorporasi Cara Pembuatan Obat yang Baik termasuk Pengawasan Mutu dan Manajemen Risiko Mutu. Hal ini hendaklah didokumentasikan dan dimonitor efektivitasnya.

analisa

 

Didalam buku CPOB dinyatakan unsur dasar manajemen mutu adalah:

a) suatu infrastruktur atau sistem mutu yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya; dan

b) tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau jasa pelayanan) yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut disebut Pemastian Mutu.

Semua bagian sistem Pemastian Mutu hendaklah didukung dengan ketersediaan personil yang kompeten, bangunan dan sarana serta peralatan yang cukup dan memadai. Tambahan tanggung jawab legal hendaklah diberikan kepada kepala Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).

D. QbD (Quality by Design)
Konsep kualitas produk sudah harus dipertimbangkan sejak awal mula suatu produk dikembangkan. Quality by Design (QbD) adalah pendekatan secara sistematis untuk pengembangan yang dimulai dari tujuan, pemahaman terhadap  produk, pemahaman terhadap proses, pengendalian proses yang dilakukan berdasarkan cara cara ilmiah/scientific dan quality risk management. QbD bermanfaat untuk meningkatkan jaminan keamanan obat dan mutu obat dan juga membantu meningkatkan kinerja manufacturer.
Quality by Design meliputi :
a. Dimulai dari penentuan sasaran profil produk yang diinginkan yang meliputi penggunaan, keamanan dan kemanjuran produk
b.Penentuan product quality profile, yang akan digunakan oleh formulator untuk membuat perhitungan terhadap aspek klinis, safety dan kemanjuran
c. Mengumpulkan informasi tentang bahan aktif, potensial eksipien dan proses pengolahan
d. Merancang formula dan mengidentifikasi hal hal kritis (quality attribute) dari produk akhir yang harus dikendalikan agar dapat mencapai target product quality profile.
e. Merancang proses manufacturing untuk menghasilkan produk akhir yang memiliki critical quality attribute ini.
f. Mengidentifikasi critical process parameter dan raw material attribute yang harus dikendalikan agar dapat mencapai critical quality attribute dari produk akhir ini. Gunakan penilaian resiko untuk memprioritaskan parameter proses dan quality attribute untuk verifikasi eksperimental.
g. Membuat strategi kontrol terhadap proses yang meliputi bahan awal, pengendalian dan pengawasan proses, merancang kondisi ruangan serta pengujian produk akhir. Strategi kontrol ini harus mencakup perubahan terhadap batch size dan dapat dibantu dengan penilaian resiko.
h. Melakukan monitoring secara kontinyu dan melakukan perbaikan proses sehingga mutu bisa dijamin secara konsisten.
E. Tenaga yang Professional
Personel adalah salah satu aspek penting di dalam CPOB sehingga perlu mendapat perhatian khusus agar dapat menghasilkan produk dengan kualitas tinggi.

Personel yang terlibat dalam kegiatan manufacturing harus :
a. mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai, hal ini perlu agar personel dapat dilatih dengan baik serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang farmasi yang terus berkembang serta regulasi farmasi yang semakin meningkat
b. mengikuti program pelatihan yang memadai sesuai dengan kebutuhan masing masing departemen. Perusahaan yang baik harus rela menginvestasikan antara 10% sampai 15% jam kerjanya untuk training guna meningkatkan kemampuanya.
c. Perlu dilakukan kualifikasi personel untuk pekerjaan pekerjaan yang kritis, yang memerlukan keahlian khusus guna menjamin konsistensi proses manufacturing. Pemahaman tentang CPOB, hygiene personel, system dokumentasi yang baik, keselamatan kerja dan kemampuan teknis di bagiannya adalah hal kunci yang harus dikuasai oleh setiap personel.
d. Talent management, personel yang sudah terlatih dan memiliki kompetensi tinggi adalah asset penting bagi perusahaan yang harus dijaga. Untuk itu perlu program pembinaan karir serta remunerisasi yang baik sehingga asset tersebut tidak mudah berpindah tangan ke perusahan lain.
F. Proses yang Handal
Suatu proses dikatakan handal apabila secara konsisten dari waktu ke waktu menghasilkan produk yang kualitasnya sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu sasaran dari konsep QbD adalah mengembangkan proses manufacturing yang handal dengan cara mengidentifikasi critical point selanjutnya mengembangkan strategi untuk pengendaliannya. Ditambah dengan verifikasi terhadap parameter kritis disetiap critical point, dengan demikian setiap penyimpangan yang berpotensi menurunkan kualitas produk akhir dapat terdeteksi sejak awal sehingga produk akhir secara konsisten terjamin mutunya. Validasi proses adalah hal yang sahih untuk membuktikan kehandalah dari suatu proses produksi obat. Selain Validasi masih ada lagi beberapa tool lain untuk mengukur kehandalan proses misalnya six sigma dll.
G. Bahan Awal yang Berkualitas
Bahan awal terutama bahan aktif, bahan penolong serta pengemas primer yang digunakan harus memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan yang ditentukan pada saat pengembangan produk tersebut, tidak boleh mengubah persyaratan tersebut tanpa melalui kajian resiko yang memadai. Juga tidak boleh melakukan penggantian sumber bahan awal tanda melalui penilian resiko dan uji stabilitas yang memadai. Kondisi penyimpanan dan penangnnan terhadap bahan awal akan sangat menentukan kualitas bahan awal tersebut pada saat akan digunakan.
Kondisi lingkungan seperti temperature, kelembaban sangat berpengaruh terhadap mutu produk. Managemen inventory yang baik dapat menjamin pengendalian inventory yang baik sehingga barang mudah diakses, termonitor dengan baik setiap mutasi stock, meminimalkan terjadinya mixed up dan kesalahan serta yang tidak kalah pentingnya adalah system pengendalian hama yang memadai.

H. Fasilitas dan Peralatan yang Memadai
Mesin dan peralatan yang digunakan untuk produksi farmasi harus secara design harus memenuhi persyaratan teknis antara lain jaminan bahwa material tidak boleh bereaksi atau berpotensi menimbulkan kotaminasi terhadap produk, harus mudah dibersihkan serta mempunyai kinerja yang secara konsisten menghasilkan output dengan kualitas sesuai spesifikasi yang ditetapkan.
Mesin harus dilakukan pemeliharaan secara teratur dan hal ini juga harus didokumentasikan dengan baik sebagai bagin dari dokumen mutu.
Tidak kalah pentingnya adalah fasilitas penunjang kritis seperti HVAC system, purified water generation and distribution system, udara tekan, clean steam serta fasilitas penunjang kritis harus dilakukan kualifikasi untuk membuktikan bahwa fasilitas tersebut mempunyai kinerja sesuai dengan yang diinginkan. Lingkungan produksi yang terkendali adalah hal yang sangat mendasar untuk mecegah terjadinya kontaminasi yang berpotensi menurunkan kualitas produk.
I. Dukungan Vendor
Vendor dalam system manufacturing obat adalah komponen penting dan perlu mendapat perhatian khusus. Vendor yang baik adalah vendor yang mampu memasok material atau jasa (misalnya kalibrasi) dengan kualitas yang secara konsisten baik, menjamin kontinuitas supply sehingga barang dan jasa tersebut tersedia tepat pada waktunya serta bekomitmen terhadap mutu.
Perlu dilakukan audit untuk memastikan bahwa system manufacturing bahan baku sudah mengikuti prinsip GMP, mempunyai dukungan dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan NIE seperti SMF (Site Master File), DMF (Drug Master File dan dokumen dokumen lainnya. Kaidah yang paling mendasar adalah “hanya dari bahan bahan berkualitas tinggi bisa dihasilkan produk dengan kualitas yang tinggi”.

 

J. Continous Improvement
“Selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan” kalimat itulah yang menjadi dasar bahwa industry farmasi tidak boleh merasa berpuas diri dengan pencapaian saat ini. Karena pearturan peraturan selalu berkembang, ilmu pengetahuan dan teknologi juga terus berkembang. Maka baik masing masing individu maupun organisasi (perusahaan) harus terus belajar sehingga bisa terus memenuhi persyaratan teknis industry farmasi sesuai dengan peraturan terkini serta menghasilkan produk yang berkualitas tinggi yang dilakukan dengan system manufacturing yang produktif sehingga mempunyai daya saing yang tinggi pula dipasaran. Perusahaan jangan segan segan untuk menantang karyawan dengan reward yang tinggi bagi setiap inovasi yang dapat menaikan produktifitas atau kualitas.

 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2015 in FARMASI

 

How to Maximize Yield in Pharmaceutical Manufacturing Plant

Dalam system produksi sudah sangat umum dikenal istilah OEE (overall equipment effectiveness) adalah suatu ukuran tingkat efesiensi bagimana suatu unit produksi atau pabrik dioperasikan. Secara umum komponen penentu OEE adalah Availability, Performance dan Quality. Atau akan lebih mudah dijelaskan dengan persamaan sbb :

OEE = Availability x Performance x Quality

Atau :

                             OEE  =    a/b   x    c/d    x     e/f

 

Dimana :

Availability          = (a) Planed runtime

(b) Actual runtime

Performance     = (c) Theoritical units produced in actual runtime

(d) Actual unit produced in actual runtime

Quality                 = (e) Expected Good Quality units

(f) Actual good quality units

e/f is also known as YIELD

Aspek kualitas dalam industry farmasi tidak boleh ditawar, karena obat adalah komoditas yang berkaitan erat dengan keselamatan pasien. Dilihat dari sisi bisnis maka yield sangat menentukan terhadap performance bisnis dari sebuah unit manufaktur, karena dengan yield yang tinggi maka dengan sendirinya kerugian yang diakibatkan oleh produk  yang cacad bisa diminimalisir sehingga biaya produksi bisa lebih efisien dan diharapkan harga jual produk tersebut di pasaran akan menjadi lebih kompetitif.

Dalam upaya untuk meningkatkan yield di sebuah unit manufaktur khususnya farmasi perlu dilakukan upaya upaya sebagai berikut :

1.       Proses produksi yang handal.

Proses yang handal dalam system manufacturing memegang peranan yang sangat penting, karena dengan proses yang handal maka akan tercipta konsistensi dari serangkaian aktifitas produksi untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang sesuai dengan persyratan yang ditetapkan serta secara konsisten pula tingkat efisiensinya. Proses yang handal dapat menjamin mutu produk yang dihasilkan konsisten, dapat menjamin tingkat efisiensi yang tinggi terhadap proses yang dilakukan serta mengurangi kerugian akibat kesalahan, mengurangi kemungkinan reproses, serta mengurangi waste/produk reject yang diakibatkan karena proses yang tidak baik.

Proses yang handal diperoleh dengan mempelajari proses yang baru dikembangkan, lalu dilakukan identifikasi terhadap semua parameter dalam kegiatan produksi yang berpengaruh terhadap kualitas produk. Parameter parameter yang telah diidentifikasi kemudian dicatat dan dievaluasi. Tahap selanjutnya dilakukan kegiatan validasi untuk membuktikan bahwa dengan pengendalian semua parameter tersebut maka akan dihasilkan produk dengan mutu yang secara konsisten memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Berdasarkan pembuktian inilah maka kita dapat melakukan standarisasi terhadap proses produksi sehingga dihasilkan proses produksi yang handal. Proses produksi yang handal dicirikan dengan tingkat variasi parameter pemeriksaan  yang rendah/sempit, sehingga angka rejek bisa ditekan, kegagalan proses atau rework yang rendah serta tingkat efisiensi yang tinggi.

Proses yang handal bukan sesuatu yang berdiri sendiri, namun dipengaruhi oleh factor factor lain antara lain system pengembangan proses produksi khususnya untuk produk yang baru baru, personel yang melaksanakan kegiatan produksi, peralatan yang digunakan, fasilitas pendukung, system perencanaan produksi yang baik dsb.

2.       Bahan  awal yang baik

Material yang menjadi input dari sebuah proses produksi terdiri dari bahan baku, bahan kemas dan bahan pembantu. Agar bisa dilakukan kegiatan produksi dengan yield yang tinggi maka factor ini juga harus diperhatikan. Bahan yang digunakan harus berasal dari sumber pemasok  yang terpercaya dan memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.

Ciri pemasok yang baik adalah selalu menjaga kepercayaan pelanggannya dengan baik dan selalu menjaga kepuasan pelanggan, dengan cara mengirimkan barang yang memang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Pemasok yang baik akan memberikan jaminan kepada pelanggannya terhadap mutu barang yang kirimkan kepada pelanggan.

Ada beberapa indicator yang bisa digunakan sebagai ukuran dari pemasok antara lain pemenuhan terhadap persyaratan teknis sesuai ketentuan yang berlaku sesuai dengan bidangnya, misalnya untuk bahan baku harus ada sertifikat BPOM/FDA atau badan lain yang terkait. Selain itu penerapan system managemen mutu misalnya sertifikat ISO juga bisa menjadi indicator. Disamping itu bisa juga dilihat dari custumer listnya serta beberapa lembaga lain yang pernah melakukan audit ke pemasok tersebut, umumnya semakin banyak mendapat kepercayaan baik dari pelanggan maupun dari lembaga pemerintah atau non pemerintah biasanya pemasok tersebut semakin lebih baik.

Bahan awal, baik bahan baku maupun bahan pengemas sangat berpengaruh terhadap kualitas produk, oleh karena itu haris dipastikan bahwa bahan awal tersebut secara konsisten terjamin kualitasnya. Bahan awal yang tidak baik akan berpengaruh pada saat proses produksi maupun stabilitas produknya.

3.       Peralatan produksi yang baik

Proses produksi akan berjalan dengan baik hanya jika didukung oleh mesin dan peralatan yang baik. Mesin dan perlatan yang baik tercipta melalui pemilihan desain mesin yang sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan teknis terkait, dan dilakukan instalasi secara benar, dioperasikan oleh personel yang terlatih, serta dilakukan perawatan yang baik. Mesin yang baik dicirikan bisa dioperasikan dengan baik dan aman baik terhadap produk maupun terhadap operator, memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dan menghasilkan variasi produk yang relative kecil sehingga angka rejectnya rendah.

Sebaliknya mesin yang buruk akan memiliki tingkat efisiensi yang rendah, memiliki resiko kontaminasi terhadap produk, dan ada kemungkinan membahayakan operator. sering macet, banyak produk yang reject.

Untuk itu perlu diperhatikan pada saat pengadaan mesin harus dipastikan bahwa mesin tersebut sesuai dengan kebutuhan, desainnya memenuhi semua persyaratan teknis yang dibutuhkan serta memenuhi syarat dari aspek regulasi GMP. Mesin diinstal secara benar oleh personel yang qualified, dan dilakukan pengujian sebelum digunakan (IQ,OQ, PQ), kemudian mesin dioperasikan secara benar oleh personel terlatih yang telah ditunjuk serata dilakukan perawatan secara rutin. Usahakan untuk selalu menggunakan spare part asli untuk menjaga keawetan mesin. Utilitas seperti steam, voltage listrik, tekanan compresed air dan saran penunjang lainnya harus dipastikan sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh pabrik pembuat mesin.

4.       Fasilitas pendukung yang memadai

Fasilitas pendukung yang diperlukan untuk berlangsungnya aktifitas produksi juga harus diperhatikan, jangan sampai tercipta lingkungan produksi yang kurang baik sehingga menghambat kegiatan produksi yang berakibat kepada terhambatnya proses, kontaminasi produk, timbulnya rework atau bahkan produk terpaksa harus direject oleh bagian pengawasan mutu.

Disamping factor keamanan, gudang juga harus mempunyai cara  penyimpanan yang sistematis, sehingga barang mudah diakses dan ditelusuri serta mempunyai system pencatatan yang baik, baik secara manual maupun secara computerized. Gudang kering (tidak bocor atau kebanjiran), tidak bersiko tercampur bahan berbahaya, beracun, atau berbau  serta bebas dari hama.

Fasilitas gudang penyimpanan bahan awal dan produk jadi juga harus menjamin kondisi suhu dan kelembaban sesuai dengan syarat penyimpanan pada sepsifikasi  bahan awal atau produk jadi agar terjamin stabilitasnya dan mutunya.

Tata letak pabrik juga perlu diatur sedemikian rupa sehingga bisa menjamin terciptanya alur proses yang baik, baik dari segi personel maupun pergerakan barang. Ruangan yang sempit, tata letak yang semrawut, system inventory yang tidak baik akan menimbulkan penumpukan barang, lingkungan yang berantakan sehingga terjadi inefesiensi.

5.       Personel yang terlatih.

Aktifitas produksi yang baik perlu didukung dengan systam tata kerja yang baik, standar operating prosedur yang memadai serta personel yang berdisiplin tinggi serta mempunyai pengetahuan yang memadai serta tingkat kepatuhan yang baik pada aturan atau standar operating prosedur yang berlaku.

Perusahaan harus memandang bahwa personel adalah asset perusahaanm sehingga jangan segan segan untuk menginvestasikan waktu dan biaya agar personel mempunyai pengetahuan dan kualifikasi sesuai yang dibutuhkan. Bagian pengembangan sumber daya manuasia harus mengembangkan system untuk bisa mencari,  melatih, membina, mengembangkan karir serta mempertahankan personel yang baik agar tidak pindah ke perusahaan lain melalui mekanisme system remunerasi yang baik serta prinsip penghormatan terhadap nilai nilai kemanusian. Hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan personel yang baik bahkan bisa menimbulkan energi positif sehingga personel akan merasa bahwa perusahaan ini adalah rumah sendiri, sikap ini tidak bisa timbul begitu saya tetapi harus dikembangkan secara terus menerus sehingga karyawan merasa dibutuhkan sekaligus dihargai oleh perusahaan, setiap kemajuan perusahaan juga memberikan sisi positif bagi personel tersebut.

5. Managemen produksi yang baik

Managemen produksi yang baik meliputi aktifitas kerja yang terencana dengan baik mulai dari pengadaan material, pengolahan, penyimpanan produk antara atau produk akhir, pengawasan mutu,  hingga penyaluran produk jadi.

Struktur organisasi yang memberikan kejelasan akan tugas dan tanggung jawab serta hubungan kerja sehingga tidak ada area abu abu yang membingungkan. Sistem kerja yang menjamin kepatuhan terhadap SOP serta pengawasan yang baik sehingga.

System produksi juga harus menjamin dipenuhinya semua persyaratan teknis yang berhubungan dengan regulatory compliance dan kualitas di satu sisi serta kelancaran bisnis proses disisi lain. System produksi yang baik dapat menjamin kelancaran alur proses kegiatan produksi sehingga menjadi sebuah proses yang mengalir, serta dapat mendeteksi sedini mungkin jika ditemukan adanya penyimpangan atau penumpukan di salah satu mata rantai yang dapat menghambat aliran proses. Secara umum kunci suksesnya kegiatan produksi dapat dilihat dari kelancaran aliran proses kegiatan produksi, dan kondisi ini memungkinkan para manager untuk “take a break” guna memikirkan “proses apa gerangan yang bisa diimprove?”

 
Leave a comment

Posted by on August 28, 2013 in FARMASI, MANAGEMEN, PRODUKTIFITAS

 

HOW TO CALCULATE THE CAPACITY OF PHARMA WATER PURIFICATION

Air adalah salah satu sarana penunjang yang sangat dibutuhkan dalam proses manufacturing produk farmasi. Air dalam industry farmasi dikenal ada beberapa jenis antara lain :  water, purified water dan Water for injection.

Drinking water atau potable water biasanya digunakan sebagai raw water untuk memproduksi purified water dan water for injection. Sedangkan PW digunakan sebagai bahan baku, bahan pembantu atau hanya untuk pencucian alat alat untuk produk farmasi non steril, misalnya sediaan tablet atau syrup. Sedangkan WFI biasanya digunakan sebagai bahan baku, bahan pembantu atau untuk pencucian peralatan yang digunakan untuk produk sterile.

Dalam medesain system pengolahan air, hal yang paling mendasar adalah berapa kapasitas yang dibutuhkan. Pertanyaan ini sepintas sepertinya mudah dijawabnya, tetapi sebenarnya harus dilakukan perhitungan secara matang agar tidak terjadi kesalahan fatal dikemudian hari. Sebagaimana diketahui SPA adalah salah satu system penunjang yang untuk pembuatannya memerlukan biaya yang mahal, sehingga harus dihitung secara cermat berapa kapasitas yang debenarnya dibutuhkan, dan harus dipastikan bahwa kapasitas tersebut masih cukup untuk lima tahun kedepan, atau minimal untuk 3 tahun sampai biaya investasi bisa kembali. Juga harus dipastikan bahwa desainnya dapat mencukupi flow rate yang dibutuhkan pada peak time.

Untuk itu ada tahapan yang harus dilakukan dalam melakukan perhitungan kapasitas SPA :

  1. Lakukan pendataan aktifitas aktifitas yang membutuhkan purified water
  2. Lokasi dimana dibutuhkan purified water, hal ini berguna untuk menentukan posisi user pointnya
  3. Mendata kebutuhan air untuk setiap jenis aktifias yang meliputi : lokasi/ruangan, waktu kapan akitiftas tersebut dilakukan dan jumlah air yang ibutuhkan serta flow ratenya
  4. Menghitung kebutuhan purified, serta membuat estimasi kebutuhan untuk 3 sampai 5 tahun kedepan
  5. Menentukan kapasitas storage tank, misalnya harus dapat menampung purified water guna memenuhi kebutuhan operational pabrik untuk minimal 1 shift.
  6. Menentukan kapasitas unit SPA.Agar lebih mudah dapat di buat ilustrasi data pemakaian purified  seperti berikut ini silahkan klik  CARA MENGHITUNG KAPASITAS SISTEM PENGOLAHAN AIR-1
 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in FARMASI

 

Renovasi Fasilitas Produksi Obat dari Aspek Pengembangan Bisnis

Keikutsertaan Indonesia sebagai anggota dari PIC/S (The Pharmaceutical Inspection Convention and Pharmaceutical  Inspection Co-operation Scheme) membawa dampak yang sangat signifikan dalam perkembangan Industri farmasi  di Indonesia. Di satu sisi ini adalah perkembangan yang sangat positif dalam hal penyediaan obat yang berkualitas bagi masyarakat, karena dengan implementasi  PIC/S standar ini maka kualitas obat yang diproduksi oleh pabrik obat di Indonesia sudah setara dengan negara Negara Eropa.

Namun tentunya hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis di bidang farmasi, karena dengan persyaratan teknis mengacu kepada PIC/S standar maka harus dilakukan perbaikan perbaikan pada system manufacturing di Industri Farmasi,  dan ini tentu memerlukan tambahan investasi yang cukup besar. Tanpa disadari pelaku bisnis industry farmasi dipaksa mengikuti proses “seleksi alam”, dimana perusahaan yang mempunyai kekuatan bisnis besar akan tetap eksis sedang perusahaan yang kekuatan bisnisnya lemah akan secara alamiah tersingkirkan.

Untuk itu tentu diperlukan strategi dalam setiap mengambil keputusan yang menyangkut renovasi fasilitas produksi obat, berikut adalah beberapa pertimbangan startegis dari aspek pengembangan bisnis dalam melakukan investasi, khususnya renovasi, ekspansi  atau pembangunan fasilitas produksi obat yang baru.

Pastikan bahwa investasi yang dilakukan sejalan dengan arah kebijakan perusahaan

Dalam setiap perusahaan tentu sudah ada visi perusahaan yang berisi road map, serta arah kebijakan dimasa yang akan datang. Semua target target yang ingin dicapai,  strategi bisnis yang akan dilakukan, perencanaan investasi serta kebijakan perusahaan dalam beberapa tahun kedepan sudah ditetapkan, dan ini akan menjadi petunjuk bagi manegemen dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Beberapa hal yang biasanya menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan road map ini antara lain : goal perusahaan jangka pendek, menengah dan panjang, kondisi ekonomi makro, trend pasar dimasa mendatang, arah kebijakan pemerintah termasuk kondisi politik, serta proyeksi kondisi social ekonomi masyarakat dalam beberapa tahun kedepan. Dengan demikian perusahaan sudah menetapakan focus dalam menjalankan bisnisnya untuk beberapa tahun kedepan, sector bisnis apa saja yang akan dikembangkan, startegi marketing apa yang akan dijalankan, di segemen pasar mana yang akan diprioritaskan dsb.

Sebelum melakukan investasi berupa pembangunan fasilitas produksi obat baru, kegiatan ekspansi, atau renovasi, dimana memerlukan biaya investasi yang tidak kecil, terlebih dahulu harus dipastikan bahwa hal ini sudah sejalan dengan arah visi perusahaan yang tertuang didalam road map. Karena jika tidak sejalan dengan visi perusahaan maka investasi besar yang telah dilakukan akan menjadi sia sia, karena kurang fokus, sehingga hasilnya tidak akan maksimal.

ROI (Return of Investment)

Dalam setiap akan melakukan sebuah investasi harus terlebih dahulu dilakukan evaluasi terhadap tingkat efisiensinya, untuk mengukur dan menentukan apakah sebuah investasi layak dilakukan. Serta untuk membuat perhitungan berapa lama biaya investasi tersebut akan kembali untuk itu perlu dibuat perhitungan return of investment.

Perusahaan farmasi tidak berbeda dengan bisnis yang lain dalam perhitungan ROI, sesuai dengan kebijakan managemen harus menetapkan berapa lama investasi itu harus kembali, jangka waktunya tentu sangat beragam di masing masing perusahaan. Ada yang menghendaki ROI harus dicapai dalam 1 tahun, ada yang 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 5 tahun. Untuk investasi berupa riset molekul baru umumnya ROI masih bisa diterima dalam jangka waktu  5 sampai 10 tahun.

Untuk itu diperlukan kejelian dalam menetapkan apakah sebuah investasi pembanguanan atau renovasi pabrik obat perlu dilakukan atau tidak perlu dilakukan, bahkan road map yang ada pun jangan bersifat kaku/mati, harus selalu diupdate sesuai dengan kondisi pasar, kondisi social ekonomi masyarakat, kondisi social politik terutama kebijakan pemerintah, misalnya pemberlakukan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) serta kondisi ekonomi makro.

 

Bisnis yang Erat dengan peraturan/regulasi

Perlu dipahami bahwa bisnis obat adalah bisnis yang penuh dengan aturan aturan pemerintah, mulai dari pengadaan bahan bakunya, penyimpanan, proses manufakturingnya, penyimpanan serta distribusi dan pemasaran semua banyak diatur oleh pemerintah. Mulai dari regulasi import bahan baku, regulasi produksi bahan baku, regulasi tentang narkotika dan psikotropik, regulasi pengajuan ijin edar, regulasi bidang pengembangan produk baru, regulasi sitem produksi dan pengendalian mutunya, regulasi penyimpanan bahan baku dan obat jadi, regulasi penyaluran obat jadi dan sederat aturan lain yang harus diikuti oleh pelaku bisnis bidang obat.

Sehingga seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pengadaan bahan, manufacturing hingga penyaluran obat jadi harus dipastikan memenuhi semua persyaratan teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah. Di sisi lain juga harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, perlunya efisiensi dalam segala sector serta kegiatan inovasi yang harus selalu dijalankan untuk mencapai keunggulan pasar. Sehingga perlu dilakukan integrasi antara berbagai kepentingan ini dalam sebuah kebijakan perusahaan, dengan demikian maka keunggulan bisnis dapat dicapai.

Dalam bidang pemasaran, saat ini pemerintah juga memberlakukan system E-catalogue, dimana hanya produk produk yang mempunyai harga kompetitif yang bisa masuk kebutuhan obat dari pemerintah. Selain itu pemberlakuakn System Jaminan Sosial Nasional tahun 2014 juga sangat mempengaruhi kebijakan perusahaan khususnya dalam menentukan startegi pasar yang akan diambil.

Diperlukan kejelian dari seorang pebisnis untuk berselancar di tengah-tengah derasnya ombak persaingan yang ketat, serta mengikuti peraturan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah sambil secara kreatif mencari celah yang dapat dimanfaatkan secara legal serta “mengintip” arah kebijakan yang kira kira akan diambil oleh pemerintah, sehingga ketika ada peraturan baru akan ditetapkan tidak terkaget kaget bahkan bisa mencuri start untuk mengambil langkah antisipasi.

Jangan ragu ragu jika tidak mampu tutup

Jelas sekali bahwa persyaratan teknis GMP tidak mungkin bisa ditawar, maka jika memang secara perhitungan ROI dari sebuah investasi tidak layak untuk dilakukan, maka mau tidak mau investasi tersebut harus dibatalkan. Perushaan perusahaan dengan varian produk yang sangat banyak, biasanya untuk dapat memenuhi persyaratan teknis GMP terbaru  perlu lebih banyak improvement dibandingkan perusahaan lain dengan varian produk sedikit. Artinya biaya untuk renovasi fasilitas dan system manufatkurnya juga juga lebih banyak.

Kondisi ini tentu sangat memberatkan, untuk itu pebisnis harus focus kepada produk mana yang memang prospektif untuk dipasarkan, sedangkan produk yang tidak prospektif fasilitas produksi ditutup, cara produksinya bisa dilakukan dengan cara menjalin kerja sama dengan perusahaan lain untuk melakukan  contract manufacturing. Tentunya kondisi ini tidak selamanya, apabila ternyata respon pasar terhadap produk tersebut sangat baik dan dirasa cenderung meningkat terus sehingga visible untuk dilakukan investasi pembangunan pabrik baru, barulah dibangun pabrik baru.

Solucinum

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2013 in FARMASI, Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers